Wednesday, August 27, 2008

Jangan latah menjelek-jelekkan orang

Anda pernah terlibat konflik dengan orang lain? Tentunya pernah. Konflik bisa diselesaikan dengan rembug, duduk bersama membicarakan permasalahan dengan terbuka dan mencari jalan tengahnya. Banyak konflik yang berakhir dengan win-win solusion setelah dibicarakan bersama, tapi ada pula yang tak berujung dengan damai. Rembug, diskusi, musyawarah, sharing atau apalah namanya, membutuhkan kesabaran, perasaan, keterbukaan, keinginan untuk menyelesaikan masalah dan mengenyampingkan egoisme.

Jalan tengah tak kan dapat dicapai apabila masing-masing pihak tetap bertahan pada pendapatnya sendiri. Yang paling berperan di sini adalah emosi. Semakin pintar anda mengontrol emosi, semakin tinggi martabat anda dan semakin besar kemungkinan solusinya tercapai. Sebaliknya, kalau saling lepas kontrol emosi dan tidak mau beranjak sedikitpun dari pendapat pertama alias mempertahankan egonya, sudah pasti hasilnya membentur jalan buntu.

Situasi yang lebih parah adalah apabila anda terlibat konflik dengan seseorang namun tidak pernah punya kesempatan untuk duduk bersama membicarakan jalan keluarnya agar konfllik tidak berkepanjangan. Yang terjadi justru saling menceritakan kejelekkan pada orang lain agar terpengaruh dan sama-sama membenci orang tersebut. Lama kelamaan tanpa disadari, perjalanan waktu telah menjadikannya rival permanen anda. Jadilah anda dan rival anda tadi musuh sejati bagaikan Tommy dan Jerry. Kemanapun anda pergi, anda dengan sukarela meng-iklan-kan kejelekan rival anda tadi dan begitu pula sebaliknya, rival anda akan gencar mempromosikan kejelekan dan kelemahan anda.

Apabila situasi di atas benar-benar terjadi pada anda, maka sebaiknya mulai sekarang anda berhenti melakukan tindakan bodoh tersebut! Berhentilah menceritakan kejelekan rival anda, walaupun dia masih tetap setia menjadi bintang iklan yang mempromosikan kejelekan anda. Anda tidak perlu khawatir karena orang tidak serta merta jadi jelek hanya karena dijelek-jelekkan orang lain. Bagaimanapun kita menceritakan sesuatu pada orang lain, pendengarnya tak kan menelan mentah-menath semua informasi yang kita sampaikan. Orang juga memiliki kebebasan untuk menilai, (minimal untuk keperluan dirinya sendiri) siapa yang bercerita dan siapa yang diceritakan.

Justru ketika anda mengada-ada atau mengarang secara hiperbola, anda akan mendapat nilai negatif dari pendengarnya, apalagi kalau si pendengar sampai tahu hal yang sebenarnya terjadi. Semakin gencar anda menceritakan ke orang lain semakin tenar anda sebagai orang yang mempunyai nilai negatif, sehingga cap sebagai tukang gosip pun nempel di jidat.

Sudah jamak adanya, bila ada dua pihak yang bersengketa, maka yang paling banyak menjelek-jelekkan lawannya sebetulnya adalah yang paling bermasalah. Maka bila kita bertemu seseorang yang kemudian menjelek-jelekkan orang lain kita bisa ambil kesimpulan pertama bahwa dialah sebenarnya yang tidak beres. Kalau tidak percaya silahkan adakan pengamatan atau studi lapangan, saya garansi, apa yang saya katakan benar adanya... ehem.
Baca lengkap......

Tuesday, August 19, 2008

Mengajarlah di luar negeri

Sebagai seorang guru di sekolah swasta, tentu dibutuhkan kinerja maksimal dan evaluasi terus menerus oleh pihak yayasan. Itu sudah biasa, di sekolah manapun anda bekerja anda memang selalu dituntut kerja maksimal. Masalahnya adalah ketika anda sudah bekerja maksimal tapi penghargaan yang diberikan pihak yang merekrut anda tidak sesuai dengan kerja keras anda. Seorang guru yang credible dan mempunyai integritas tinggi hal tersebut bukanlah alasan untuk menyerah dan mengorbankan pendidikan murid-muridnya. Tapi sesabar apa pun, guru juga manusia yang punya tanggungjawab tidak hanya di sekolah tapi juga di rumah untuk mensejahterakan anggota keluarganya. Sehingga wajar saja guru yang credible dan punya integritas tinggi tadi goyah juga dan mencoba berpaling pada sumber pencarian yang lebih menjanjikan, atau "nyambi" di sektor lain di luar pendidikan.

Bagi anda yang bisa berbahasa asing, sebetulnya tidak perlu terlalu khawatir karena kemampuan anda itu mempunyai nilai tambah yang bisa diandalkan. Anda bisa tetap hanya mengajar tanpa harus "nyambi" dan mendapatkan penghasilan yang cukup. Coba lah untuk melamar menjadi guru di negara lain. Kesempatan ini selalu terbuka bagi anda dan tak perlu merasa bersalah atau takut dipertanyakan nasionalismenya. Negara-negara berkembang semisal India dan Pakistan banyak bekerja di luar negaranya dan itu sama sekali bukan berarti tidak cinta negaranya, justru dengan begitu negara mereka sangat diuntungkan. Daripada mengekspor TKI yang kurang terampil dan akhirnya hanya jadi bulan-bulanan bangsa lain, mengajar di sekolah-sekolah luar negeri lebih bermartabat.

Mungkin masalahnya hanya kurangnya informasi dan percaya diri. "PeDe" memang menjadi masalah besar bangsa kita. Mungkin impact dari penjajahan yang lebih dari setengah abad. Tapi itu tak bisa dibiarkan terus menerus. Bangsa-bangsa lain yang sebetulnya kemampuannya masih setara dengan kita berani mengajar keluar negeri, kenapa kita tidak?. Padahal banyak negara-negara di Afrika dan Timur Tengah yang butuh tenaga pendidik dari Indonesia. Hanya saja infromasi itu mungkin tidak sampai ke anda.

Saya pernah coba mendaftar di Seriousteachers.com untuk mencari sekolah-sekolah yang membutuhkan guru yang sesuai dengan bidang saya. Ternyata cukup banyak sekolah-sekolah elit di luar sana yang membutuhkan. Setiap bulan ada saja email dari situs tersebut yang masuk memberikan informasi tentang sekolah-sekolah yang membutuhkan guru sesuai dengan bidang yang saya pilih. Saya juga bisa menentukan negara yang saya tuju, sehingga informasi kebutuhan guru tadi juga sesuai dengan negara tujuan saya. Sayangnya sampai saat ini masih ada program saya yang belum selesai di dalam negeri, kalau tidak tentu saya sudah terbang ke sana.

Lalu anda yang masih muda dan punya kemampuan kenapa tidak mencobanya? Itung-itung nambah devisa negara, sambil menangguk dollar dan mengabdi untuk masyarakat dunia, anda juga bisa promosikan keelokan budaya bangsa anda yang tercinta ini.
Baca lengkap......

Wednesday, August 13, 2008

Kekerasan dan peran pendidikan

Kita sudah jengah dengan berita-berita di media tentang kekerasan yang terjadi di seantero nusantara. Pelakunya bukan hanya seorang kriminal atau psikopat seperti Fery Henyansyah atau dukun AS tapi juga pelajar, mahasiswa dan masyarakat berpendidikan. Sebut saja beberapa kasus, seperti geng Nero, yang pelakunya adalah pelajar SLTA atau kasus bentrok Mahasiswa Cahaya dengan masyarakat yang terjadi di Jakarta belum lama ini dan sederet kasus tawuran pelajar atau mahasiswa yang terjadi selama ini. Anehnya lagi semua ini terjadi di negara yang terkenal dengan keramahan dan lemah-lembutnya, yang semua rakyatnya sepakat mempunyai budaya timur yang jauh dari kekerasan. Setidaknya itulah yang selalu ditanamkan di benak kita sejak masih duduk di bangku SD, walaupun sebenarnya sejak dulu sebagian kita sudah meragukannya.

Karena budaya amat erat hubungannya dengan pendidikan dan lebih-lebih lagi peran pendidikan dalam membentuk karakter masyarakat tak terbantahkan (daerah yang persentase literacynya lebih tinggi, lebih sedikit ditemukan kasus kekerasan dibanding yang literacynya rendah), kita jadi bertanya-tanya ada apa dengan sistem pendidikan kita?. Apakah kasus-kasus kekerasan yang disebut di atas menandakan bahwa kita telah gagal mendidik bangsa?

Kekerasan yang merupakan sikap anti-sosial sangat identik dengan kriminal, walaupun tidak semua kekerasan bisa dikategorikan crime. Tindakan kriminal adalah bentuk sikap anti-sosial yang melanggar sentimen publik dan dilarang oleh hukum. Jadi kriminal adalah aktivitas anti-sosial dan aktivitas melawan hukum secara bersamaan. Kendatipun tidak semua aktifitas anti-sosial bisa diproses secara hukum, tapi tentu saja tak luput dari kecaman masyarakat umum.
Sebagaimana klasifikasi pelaku kriminal, pelaku kekerasan juga bisa kita klasifikasikan ke dalam 2 kelompok besar.
Yang pertama adalah kelompok pelaku kekerasan yang sudah berbakat sejak kecil. Pelakunya melakukan kekerasan tanpa objective atau kondisi tertentu. Hukuman baik legal maupun sosial tidak akan menjadikannya jera untuk tidak mengulangi tindakan kekerasannya lagi. Kebanyakan pelakunya berasal dari keluarga yang profesinya berhubungan dengan kekerasan seperti preman dan mafia atau yang sejenisnya. Sementara kelompok kedua adalah pelaku kekerasan yang didorong oleh sebab-sebab tertentu. Orang ini tidak mewarisi sifat keras dari keluarganya tapi seiring dengan berjalannya waktu kehidupannya menghadapi keadaan yang memaksanya untuk cenderung pada kekerasan. Sehingga dia menjadi orang yang kadang-kadang lembut tapi juga sampai hati untuk bertindak tidak manusiawi. Orang yang berada dibawah pengaruh minuman keras dan obat-obatan terlarang temasuk dalam kategori ini.

Baik kelompok pertama maupun kedua sebenarnya sama-sama punya peluang untuk terhindar dari kecenderungan terhadap berperilaku keras. Dalam tatanan kehidupan kita mengenal social control sebagai sistem yang menjaga sikap individu agar tetap sesuai dengan nilai umum yang disepakati dalam masyarakat. Sayangnya belakangan ini social control itu tidak berfungsi sebagaimana harusnya.

Hayes, seorang ilmuwan sosial, membagi social control pada dua bagian. Yang pertama adalah control by sanction, yaitu dengan memberi sanksi pada orang yang melanggar hukum. Ini tentunya berkaitan dengan kinerja polisi dan pengadilan, lembaga yang bertanggungjawab dengan penyelenggaraan hukum. Yang kedua adalah control by socialization and education, yaitu sosialisasi norma dan nilai melalui pendidikan. Ini tentunya bukan hanya tanggungjawab guru atau sekolah saja walaupun porsinya lebih besar, tapi juga tanggungjawab orang-tua, tokoh masyarakat, da'i ataupun agamawan. Mereka ini, menurut Karl Maunhelm adalah grup yang memberikan direct control, sementara indirect controlnya adalah tradisi, opini, adat dan lain-lain.

Pendidikan sebagai agen penting sosial control, disamping agama, keluarga dan hukum layak kita pertanyakan hasilnya selama ini. Pendidikan adalah proses yang membentuk sikap dan menentukan perilaku, baik pada anak-anak maupun dewasa. Setiap pengaruh yang perlahan membentuk fikiran, perasaan dan perbuatan termasuk dalam pendidikan. Dalam pengertian yang lebih luas, sekolah sebagai institusi pendidikan melayani fungsi mengarahkan anak dan remaja kepada cara hidup bermasyarakat. Dengan menanamkan nilai-nilai dasar, konsep dan kebiasaan, pendidikan memberikan efek yang sangat besar terhadap anak dan remaja. Dengan begitu, sekolah selayaknya melaksanakan fungsi social control yang sangat luas dan efektif dibanding institusi lain.

Sayangnya carut marut wajah pendidikan kita diperburuk oleh kinerja guru dan persaingan sekolah yang orientasi bisnisnya sangat kental terasa. Atas permintaan pasar, porsi pendidikan nilai sudah dikurangi digantikan dengan pelajaran lain yang lebih menarik minat orang-tua. Sekolah, kalau ingin "laku", dituntut untuk dapat membuat peserta didiknya senang tanpa harus memikirkan apakah itu baik untuk anak didik atau sebaliknya, membodohkan kecerdasan emosinya. Anak-anak dimanja dengan fasilitas yang serba "wah" dengan harapan mereka bisa nyaman belajar tapi nyatanya justru mendidik anak untuk tidak mandiri dan tidak terampil menghadapi kesulitan yang pada gilirannya menciptakan anak-anak yang mudah menyerah dan malas. Menjamurnya sekolah-sekolah yang bertaraf internasional yang lebih pantas disebut sekolah bertarif internasional adalah bukti dari persaingan bisnis pendidikan. Semakin tinggi biaya yang dikenakan oleh sekolah malah semakin banyak peminatnya.

Membudayanya sekolah-sekolah yang lebih mementingkan segi bisnis seperti ini tentu saja diragukan untuk menjalankan fungsinya sebagai social control. Jangan heran kalau suatu masa nanti anak-anak kita akan tersenyum simpul ketika gurunya mengatakan bahwa Indonesia terkenal dengan sopan-santun dan keramah-tamahan.
Baca lengkap......

advertlets

PayPal

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.